Tips Membuat Password Yang Baik

•July 28, 2008 • 1 Comment

Kata ’Password’ sering kita dengar dalam kehidupan manusia karena berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer. Dalam bahasa Indonesia sering diartikan dengan ”sandi”. Banyak orang masih menganggap sepele masalah password. Sepele namun penting! Itulah yang kita rasakan jika membahas tentang password.

Password adalah kode sandi yang harus dimasukkan ke dalam suatu sistem berupa karakter tulisan, suara, atau ciri-ciri khusus yang harus diingat. Di zaman teknologi informasi saat ini, setiap hari orang tidak terlepas dari proses password-mempassword. Misalnya, kode pin: ATM, kartu kredit, milist, e-mail, messenger/chatting, blog, bahkan ketika memakai komputer. Kenapa kita membutuhkan password, bukankah tanpa password akan lebih enak ?

Ternyata, tujuan utama password tidak lain adalah sebagai sistem yang akan memastikan bahwa benar-benar hanya pemilik saja yang bisa masuk ke dalamnya. Kemudian, kita akan dapat melihat atau menggunakan data dan informasi yang kita miliki sesuai tujuan atau keperluan.

Password merupakan salah satu cara untuk mengamankan suatu sistem komputer. Sistem komputer ini bisa berupa aplikasi (program), database ataupun sistem operasi. Oleh karena itu untuk menentukan password sebaiknya jangan sembarangan dan harus memperhatikan beberapa hal tertentu. Password harus dibuat dengan memperhatikan beberapa hal berikut ini :

1. Setidaknya panjang karakter password adalah 7 (tujuh) karakter. Anda juga bisa membuat password yang lebih panjang lagi demi keamanan.

2. Menggunakan sedikitnya 1 (satu) karakter simbol pada deretan karakter password Anda.

3. Jika sistem Anda menerapkan password history, maka pastikan password baru Anda selalu berbeda jauh dengan password sebelumnya.

4. Password Anda jangan sampai mengandung nama atau username.

5. Jangan menggunakan kata-kata yang umum digunakan pada karaktar password. Ini termasuk kata-kata yang digunakan dalam kamus.

Beberapa contoh password yang kuat misalnya sebagai berikut.

1. a4$Jhi&]

2. 3k>i%uA

3. O@u#5nQ

Mengapa harus menggunakan password ?

Password sebenarnya merupakan sistem proteksi yang paling lemah dalam sistem komputer. Maka dari itu memilih password yang kuat merupakan suatu keharusan. Mengapa demikian? Tool password cracking semakin canggih dalam usahanya membongkar password, plus juga komputer yang digunakan dalam password cracking semakin baik performanya. Password yang sebelumnya butuh waktu seminggu untuk di-crack, maka saat ini bisa di-crack hanya dalam beberapa jam saja.

Software untuk meng-crack password biasa menggunakan tiga macam pendekatan yaitu: menebak secara pintar (intelligent guessing), serangan kamus (dictionary attack) dan juga otomatisasi yang berusaha mencoba untuk menggunakan kombinasi karakter. Jika diberi waktu yang cukup, maka metode otomatisasi tersebut bisa meng-crack password apa saja. Tetapi jika password yang digunakan sangat kuat, maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memecahkannya.

Mata yang tidak Menangis di Hari Kiamat

•July 25, 2008 • Leave a Comment

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Quran menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al-Ghasyiyah ayat 1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.

Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

perKemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu memtahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti.

(Jalaluddin Rakhmat, Renungan-Renungan Sufistik: Membuka Tirai Kegaiban, Bandung, Mizan, 1995, h. 165-167)

Sebuah Teladan

•July 25, 2008 • Leave a Comment

Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo’a: “Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik ‘arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay’ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim.”

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur’an di tangan kanannya: “Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur’an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur’an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.”

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur’an kepada anak muda itu, “Bawalah Al-Qur’an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur’an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.”

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur’an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do’a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. “Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka.”

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu’awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur’an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Dari: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991

Belajar Bersyukur!

•July 25, 2008 • Leave a Comment

 Seperti biasanya, selepas ba’da shubuh saya bersama istri jalan pagi di sebuah sudut jalan timur kota Bandung, Pasir Impun namanya. Tidak terlalu dikenal, dan kondisi jalannyapun saat ini rusak, sehingga perlu kehati-hatian bila lewat di jalan ini.

“Den, singkong den,,,” sayup-sayup terdengar suara seorang kakek menawarkan singkong di seberang sana. “Weh, kebetulan sekali…” batin saya. Setelah ngobrol ngalor ngidul, iseng aku bertanya, “ga bosen kek, udah tua masih jualan… kan lebih baik di rumah, nimang cucu… dan banyak ibadah”. Mendengar ocehan saya, sang kakek agak sedikit berbeda raut mukanya.

“Den, justru dengan jualan seperti ini saya terlepas dari kebosanan. Dengan jualan seperti ini sayapun bisa belajar bersyukur….” Sebuah kalimat begitu merdu meluncur dari sang kakek. “Setiap pagi, saya bisa bertemu orang – orang baru, setiap pagi saya bisa menjual singkong yang baru….kalau Aden, memandang ini hal yang membosankan, justru saya memandang setiap hari adalah anugerah yang baru, karena setiap berganti hari, berarti Allah masih ngasih kakek sebuah kesempatan…. untuk belajar bersyukur…”, demikian seutas kalimat hikmah meluncur begitu wangi dari seorang kakek.

Setelah sampai di rumah, lama sekali aku merenung, “dalam sekali untaian hikmah kakek tadi”. Saya yang kebetulan masih jauh lebih muda dari sang kakek, sering tidak berfikir ke arah sana, hari-hari yang terlewati serasa hanya sebuah rutinitas belaka. Seorang kakek, dengan segala rendah hatinya, masih berucap “belajar bersyukur”, padahal untuk ukuran saya… wuih…. Itu lebih – lebih dari syukur.

Saya jadi teringat, sebuah untaian hikmah agung dari Syaikh Ibnu Athaillah dalam karya besarnya “Al Hikam”, “Siapa yang tidak mengenal harga nikmat ketika adanya nikmat itu, maka ia akan mengetahui harga kebesaran nikmat setelah tidak adanya”. Masih terbayang-bayang di pelupuk mata saya, bagaimana saya selalu menggerutu, mengeluh terhadap semua yang terjadi, padahal nikmat di depan mata selalu Allah limpahkan kepada saya.

Bagaimana hari – hari yang saya lalui, disibukan dengan pencarian dunia hingga untuk menjalan shalat tepat waktu saja… sering terabaikan, padahal kurang baik apa, Allah menganugerahkan kesehatan, keselamatan kepada saya. Begitu pongkahnya, berjalan di bumi Allah seolah melupakan segalanya.

Saat kumandang dzhur tiba, tak terasa langkah tubuh lunglai menuju sujud ke hadlirat-Nya, namun…. Begitu saya baca, “wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil’aalamin”, tubuhku tersungkur…. begitu malunya diri ini… bagaimana mungkin berkata seperti itu dihadapan Allah ….padahal hidup saya, jauh… daripada itu……, bagaimana kalau saya dicap pendusta ????

Ketika shalat telah usai, sayapun hanya bisa memohon supaya tidak dimasukkan ke dalam golongan orang yang dicabut nikmatnya dengan tanpa diketahui, seperti terungkap oleh Sariy Assaqathi, “Siapa yang tidak menghargai nikmat, maka akan dicabut nikmat itu dalam keadaan ia tidak mengetahui”.

Keajaiban Sedekah.

•July 11, 2008 • Leave a Comment

Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), Siramilah kebun si fulan! maka awan iu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, Wahai hamba Alloh, siapakah nama anda? dia menjawab, Fulan. Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, Mengapa anda menenyakan namaku? dia menjawab, Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?. Dia menjawab, Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). HR. Imam Muslim no.2984.

Berkata Imam Nawawi : Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang yang miskin dan orang-orang dalam perjalanan. Juga keutamaan seorang yang makan dari hasil usahanya sendiri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga. (Kunci-kunci Rizki Menurut Al Qur an & As Sunnah hal.75).

Berkata Muhammad bi Hamid Abdul wahhab, Pelajaran yang dapat di petik dari hadits ini adalah Keutamaan bersedekah kepada orang-orang yang membutuhkan , anjuran untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan anak-anak terlantar , dan Alloh mencintai orang yang hidupnya seimbang, dia mau menginfakkan sebagian hartanya kepada yang berhak menerimanya (61 Kisah Pengantar Tidur, hal.59-60).

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad mengomentari hadits di atas: (Hadits ini) termasuk dari (contoh) pengaruh-pengaruh yang baik, yang diperoleh dari sedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin . (Atsarul Ibadat Fi Hayatil muslim, hal.23).

Suami Sempurna

•July 9, 2008 • Leave a Comment

Beberapa orang di dalam ruang locker sebuah klub golf.
Sebuah ponsel diatas kursi berbunyi dan seorang laki-laki memijit tombol
speaker-function dan memulai ngobrol.

Setiap orang yang ada di sana diam untuk mendengarkan.

laki2: “Halo.”
Perempuan: “Sayang, ini aku. apakah kamu lagi di klub?”

Laki2: “Iya.”
Perempuan: “Aku lagi di toko nih dan menemukan Mantel Kulit yang indah. Ini hanya Rp 15 juta. boleh ya membelinya?”

laki2: “Tentu, ambilah jika kamu menyukainya.”
Perempuan: “Lalu aku berhenti di dealer Mercedes dan melihat model tahun 2006. Aku lihat ada satu yang bagus.”

Laki2: “berapa harganya?”
Perempuan: “Rp.450,000.000″

Laki2: “OK, untuk harga segitu, Aku ingin dengan semua pilihan.”
Perempuan: “Siip! Oh, dan satu hal lagi …..rumah yang aku inginkan tahun lalu kembali dijual. mereka berkata Rp 4.500,000.000″

Laki2: “Jadi, ambilah dan berikan mereka Rp 4.000,000.000. Mereka mungkin akan memberikannya. Jika tidak, Kita akan memberikan ekstra 500 juta. Ini harga yang cantik.
Perempuan: “OK. sampai ketemu nanti! Aku sangat mencintaimu!!””

Laki2: “Bye! I love you, too.”

Laki2 itu mematikan ponsel itu. Laki2 lain di ruang locker mulai heran, mulut2 mereka ternganga…..

Kemudian laki2 itu tersenyum dan berkata: “Adakah yang tau siapa pemilik ponsel ini?”

Ditulis Ulang Oleh : Cut Agusniar
Sumber : http://mbah-marijan.org

Wanita Idaman

•July 9, 2008 • 2 Comments

Pernikahan antara pangeran Charles, putra mahkota kerajaan Inggris, dan putri Diana pada tiga dekade lalu dianggap oleh banyak kalangan sebagai “perkawinan abad ini.” Yang laki-laki tampan, kaya raya, terpelajar dan calon raja Inggris. Sedang yang perempuan cantik jelita dan baik budi. Dua dasawarsa kemudian, setelah mempelai ideal ini dikaruniai dua anak, kedua mempelai ini sepakat untuk kembali menghadap kadi namun dengan tujuan berbeda: untuk bercerai. Apa penyebabnya?

Banyak faktor. Yang terutama adalah ketidaksetiaan putri Diana. Dalam wawancaranya dengan wartawan tv Inggris BBC, Martin Bashir, putri Diana mengaku terus terang bagaimana dia telah menjalin hubungan perselingkuhan dengan sejumlah lelaki termasuk di antaranya pengawal pribadinya, pejabat kerajaan dan yang terakhir dengan seorang pemuda asal Mesir bernama Dodi Al Fayed putra Muhammad Al Fayed, seorang hartawan Inggris pemilik supermarket Harold, sebuah supermarket yang menjual barang dagangan khusus untuk kalangan jutawan dan kerajaan.

Faktor kedua adalah kesibukan putri Diana dalam menjalankan aktivitas di luar rumah sebagai utusan khusus PBB (Persatuan Bangsa-bangsa) yang mengharuskan sang putri melakukan perjalanan jauh keliling dunia mengunjungi sejumlah negara sehingga tak ada waktu lagi untuk berkumpul dengan, apalagi melayani, sang suami.

Setelah perceraian, pangeran Charles kembali menjalin hubungan dengan seorang janda bekas teman kelasnya waktu kecil bernama Camilla Parker yang kemudian dinikahinya sampai sekarang. Apa yang menarik di sini adalah bahwa Camilla Parker tidaklah cantik. Boleh dikatakan buruk rupa dan wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Mengapa pangeran Charles menyukainya?

Camilla Parker memiliki kepribadian seorang wanita yang menjadi idaman semua pria yang berpendidikan. Ia tidak cantik rupanya, tapi hatinya berkilau. Perempuan tipe ini disebut sebagai memiliki inner beauty (kecantikan dalam). Istri yang memiliki inner beauty selalu tahu tugas dan kewajibannya terhadap suami. Ia tidak pernah mengeluh, sebaliknya ia selalu mensyukuri segala hal baik yang dilakukan sang suami; dan berusaha memperbaiki kesalahan pasangannya dengan cara yang tidak menyakitkan. Rasa sayang, kesetiaan dan pengabdiannya selalu ia berikan untuk satu orang. Ia selalu ingin memberi, dan tidak pernah menuntut. Ia menjadi pasangan yang selalu menawarkan solusi tak kala sang suami menghadapi masalah. Ia akan menjadi peringan atas beban berat yang dipilkul suami.

Kecantikan fisik perlu disyukuri karena itu anugerah Ilahi, tapi kecantikan fisik hanya akan menanam kekaguman sesaat di mata pria dan akan berbalik menjadi pelecehan dan penistaan apabila tanpa diimbangi dengan kecantikan perilaku; banyak pelacur dan wanita murahan berwajah cantik.

Sebaliknya, dalam banyak fakta, inner beauty atau kecantikan perilaku, keindahan hati dan kedewasaan sikap akan menanamkan kekaguman dan penghargaan abadi dan bertahan lama baik dari sang suami maupun dari lingkungan sekitar. Inilah mengapa dalam sebuah Hadits, Rasulullah memerintahkan seorang pria untuk memilih calon istri berdasarkan pada kecantikan hatinya (li diniha), bukan karena kecantikan lahir atau hartanya.

Begitu juga, wanita dalam memilih calon suami hendaknya tidak berdasar pada penampilan fisiknya, status sosial atau hartanya; tapi pada ketampanan hati dan keindahan perilaku serta kekuatan sikap kepemimpinannya.

Tayangan kisah tak Islami di sinetron, perilaku seronok para artis dan gosip murahan selebritis di televisi telah merubah cara berpikir sebagian masyarakat baik di kota maupun di pedesaan ke arah pola pikir negatif dan materialistik. Salah satu dampak negatifnya adalah pemujaan kepada penampilan fisik yang sebenarnya sangat menipu. Kebahagiaan dan kedamaian hati hanya akan tercapai apabila seorang santri khususnya dan umat Islam umumnya berpegang teguh pada sendi-sendi ajaran Islam; bukan pada ajaran-ajaran sesat yang ditularkan oleh penampilan dan kata-kata murahan para aktor dan artis bodoh itu.

Ditulis Ulang Oleh Cut Agusniar
Sumber : www.fatihsyuhud.com

Wanita Modern

•July 9, 2008 • Leave a Comment

Siapa itu wanita modern? Kalau pertanyaan ini diajukan di jalan-jalan, ke kalangan orang-orang yang tidak terpelajar atau mengenyam bangku pendidikan hanya setingkat SLTA atau bahkan universitas dan tidak terdidik secara benar, maka kita akan mendengar jawaban-jawaban sebagai berikut:

“Wanita yang berpakaian serba mini dan transparan, memakai tanktop, bercelana jeans ketat dan bersepatu hak tinggi.”
“Wanita yang pakai gincu dan bedak tebal dan rambutnya dicat warna-warni.”
“Wanita yang rajin memelihara kuku dan mengecatnya.”
“Perempuan yang bajunya dan seluruh aksesoris di badannya selalu mengikuti model terbaru dan mahal

Benarkah? Fareed Zakaria seorang pemikir Muslim warga negara Amerika dalam bukunya The Future of Freedom (Masa Depan Kebebasan) mengatakan bahwa pandangan atas wanita modern semacam itu dipengaruhi oleh kekeliruan kita dalam memandang komodernan atau modernitas dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Antara substansi pembawa modernitas dan sisi-sisi negatif darinya.

Modern berkonotasi pada cara berfikir dan berperilaku secara rasional dan berdasar akal sehat. Sikap dan perilaku modern semacam ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pembelajaran dan pendidikan yang tepat. Akal sehat tidak akan dapat berfungsi maksimal kalau kita selalu ketinggalan informasi keilmuan. Transfer keilmuan hanya dapat dilakukan dengan banyak membaca apa saja termasuk membaca kitab yang rutin diajarkan, buku, majalah dan berdiskusi serta berkonsultasi dengan kalangan yang dianggap mengetahui akan suatu bidang keilmuan tertentu.

Karena modern itu identik dengan akal sehat, maka wanita modern adalah wanita yang berakal sehat yang memiliki logika, cara berfikir dan berperilaku yang baik. Dalam kitab Mushkilatul Faqr wa kaifa Alajaha al Islam Syekh Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa Islam tidak pernah bertentangan dengan akal sehat. Artinya, wanita muslimah yang dalam berfikir dan berperilaku sesuai dengan syariah Islam adalah dapat dikatakan sebagai wanita modern yang sejati. Sementara istilah “wanita modern” sebagaimana yang selama ini banyak disalahpahami orang—seperti dikutip di awal tulisan ini—adalah pemahaman kalangan yang kurang rasional, kurang terdidik, kurang wawasan dan kurang berakal-sehat. Allah selalu menganjurkan kita agar selalu membaca, menulis dan berwawasan serta berilmu (Al Alaq 96:1-5) supaya kita tidak terjebak dalam pemahaman yang salah kaprah dan menyesatkan yang justru akan membuat kita dinilai sebagai wanita yang ndeso dan kampungan; bukan dianggap sebagai wanita modern seperti yang kita bayangkan dan harapkan.

Ditulis : Cut Agusniar
Sumber : Oleh A. Fatih Syuhud www.fatihsyuhud.com

Wanita Berkepribadian

•July 9, 2008 • Leave a Comment

  Siti Khadijah, istri Rasul yang pertama, adalah wanita kaya yang tidak hanya berasal dari keturunan bangsawan, beliau juga berwawasan luas dan memiliki kepribadian yang kuat. Empat unsur kelebihan yang beliau miliki tersebut membuatnya menjadi wanita yang tidak hanya berwibawa dan disegani, tapi sekaligus juga dihormati dan menarik banyak kalangan pria Arab bangsawan kaya antri untuk meminangnya, kendatipun waktu itu beliau sudah berusia cukup lanjut, 40 tahun.

Namun, sebagai pribadi yang memiliki wawasan luas dan berkepribadian kuat ia tidak mudah menjatuhkan pilihan pada sembarang pria. Baginya, harta yang melimpah dari para pria yang meminangnya tidak akan menjamin hidupnya bahagia. Begitu juga ketampanan seorang pria tidak membuatnya tergoda; ketampanan fisik hanya menarik kekaguman sekejap. Begitu juga kebangsawanan, keningratan, “kedarahbiruan” tidak menjamin seseorang memiliki kepribadian yang baik.

Oleh karena itu tidaklah aneh apabila Siti Khadijah tertarik pada seorang pria miskin bernama Muhammad (waktu itu belum menjadi Nabi dan Rasul). Bukanlah kebangsawanan Muhammad—yang berasal dari suku Quraisy yang ternama—yang membuat hatinya tergerak untuk menikah lagi. Bukan pula ketampanan Muhammad yang mengesankannya.

Wanita yang baik hati, yang berilmu dan berkepribadian kuat akan selalu tertarik hatinya untuk menikah dengan pria yang menonjol kepribadiannya. Yang jujur, dapat dipercaya, memiliki sifat mengayomi, lemah lembut tapi tegas pada saat yang diperlukan, dan yang tak kalah pentingnya, memiliki wawasan atau ilmu yang mencukupi untuk menjadi pemimpin bahtera rumah tangga selamanya. Selama hidup di dunia.

Semua karakter atau kepribadian ideal yang diimpikan Siti Khadijah terkumpul pada diri Muhammad. Dan karena itu,wanita berkepribadian kuat seperti Siti Khadijah tidak merasa malu mengambil inisiatif meminang Muhammad sebagai calon suaminya. Pasangan ideal ini hidup dengan harmonis sampai Siti Khadijah wafat lebih dulu. Rasulullah sendiri sering memuji keagungan hatinya dan keluasan wawasannya serta kematangan sikapnya yang sampai mengundang rasa cemburu Siti Aisyah, salah seorang istri Nabi yang dinikahi setelah wafatnya Siti Khadijah.

Kehalusan budi, kematangan sikap dan keluasan wawasan adalah salah satu tanda seorang wanita yang memiliki kepribadian. Keteguhan dalam memegang prinsip nilai-nilai ajaran Islam dan kemauan untuk menjauhi perilaku yang ditabukan masyarakat setempat adalah standar sejauh mana kita akan dianggap sebagai wanita yang memiliki kepribadian atau tidak.

Perlu dicatat bahwa kepribadian kuat– yang antara lain ditandai dengan sikap tak mudah hanyut pada arus atau tren negatif– adalah timbul dari determinasi (kemauan kuat) untuk memperbaiki perilaku menjadi lebih baik setiap waktu; hari demi hari sepanjang hidup. Dan terkadang hal ini tidak selalu berkaitan dengan keilmuan yang dimiliki. Sering kita melihat wanita pintar yang berkepribadian sangat menjengkelkan, begitu juga sebaliknya, tak jarang kita menjumpai wanita yang tidak begitu pintar tapi memiliki kepribadian yang menyenangkan dan disukai yang mengundang rasa hormat kita.

Islam menganjurkan agar kita memiliki keduanya: ilmu dan wawasan yang luas (QS Al Mujadalah 58:11) serta kepribadian yang kuat (QS At Tin 95:4-6) sebagai salah satu kunci menuju kepribadian wanita salihah.

Ditulis Oleh : Cut Agusniar
Sumber :Oleh A. Fatih Syuhud www.fatihsyuhud.com

Wanita Kota & Wanita Desa

•July 9, 2008 • Leave a Comment

  Dalam interaksi sosial sehari-hari, manusia cenderung memberi atribut “kota” sebagai tanda pujian dan label “desa” sebagai ekspresi merendahkan baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Kita dan orang lain pun merasa senang tak kala mendapat sebutan sebagai “orang kota” kaum perempuan pun sumringah saat dipanggil sebagai “wanita kota” dan merasa kurang nyaman saat mendapat julukan sebagai “orang desa” atau “wanita desa” atau ndesit dalam istilah bahasa Jawa.

Mengapa kata “kota” menjadi tanda pujian, dan “desa” sebagai simbol “penghinaan”? Bukankah desa lebih sering disebut dalam syair dan lagu sebagai suatu tempat yang indah dengan panorama alam natural tempat deretan sawah, aliran sungai yang bening airnya serta pepohonan dan rerumputan hijau? Begitu juga, bukankah kota dianggap sebagai tempat yang penuh polusi, kotor dan tak bersahabat?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesan kota sebagai memiliki atribut yang positif dan desa yang terkesan negatif. Salah satunya yang terpenting adalah bahwa kota mewakili suatu kedinamisan dan progresifitas (kemajuan), sementara desa menyimbolkan kediaman dan keterbelakangan serta kemalasan.

Situasi kota yang padat, memaksa warga kota untuk terus bergerak dinamis memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak bergerak berarti tidak makan, demikian bahasa sederhananya. Berbeda dengan situasi di desa yang tenang dan tampak “baik” tapi sebenarnya dapat membahayakan bagi jiwa yang lemah. Penduduk desa tidak begitu dituntut untuk bekerja keras; tanpa kerja keras pun mereka dapat makan dari hasil tanaman di sekitar pekarangan rumah mereka. Pada gilirannya, perbedaan situasi kota dan desa ini juga mempengaruhi cara berfikir dan bertindak masyarakatnya. Sementara masyarakat kota biasa bertindak cepat, lugas dan dinamis, masyarakat desa cenderung berperilaku santai, alaon-alon asal kelakon. Masyarakat kota juga dianggap lebih cepat dalam memperoleh informasi aktual dibanding masyarakat desa, informasi aktual yang dimaksud termasuk tren terbaru di berbagai bidang dari tren baju, musik, wawasan sampai keilmuan.

Singkatnya, kota identik dengan berbagai unsur positif (walau tidak lepas dari sisi negatif) seperti kerja keras, kemajuan dan kedinamisan; sementara desa berkonotasi sebaliknya: keterbelakangan dan kemalasan. Oleh karena itu, pengertian kota dan desa yang hakiki hendaknya tidak dimaknai secara harfiah dan sempit . Dengan kata lain, atribut “orang kota” atau “orang desa” hendaknya tidak difahami berdasarkan lokasi seseorang berada. Pemahaman geografis semacam ini hanya akan memalingkan pengertian positif yang hakiki dari istilah ini.

Demikian juga, dalam konteks perempuan, julukan “wanita kota” hendaknya dimaknai sebagai “wanita yang progresif (berkeinginan untuk maju), berwawasan dan selalu bekerja keras” sementara yang disebut dengan “wanita desa” adalah “wanita malas, tak berilmu dan tak memiliki kepribadian kuat.”

Dengan demikian, kita memaklumi bahwa bisa saja seorang “wanita kota” bertempat tinggal di desa sementara yang disebut “wanita desa” atau “wanita kampungan” berlokasi di kota. Dan inilah pengertian hakiki dari kedua istilah ini.

Saat hijrah ke Yatsrib, Rasulullah mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah al Munawwaroh atau Kota yang bersinar yang bermakna tempat yang penduduknya memiliki spirit dinamis, progresif, maju dan kerja keras.

Oleh A. Fatih Syuhud
fatihsyuhud.com (Situs Resmi)

Ditulis Ulang Oleh Cut Agusniar